Jasa Pindahan Kantor Apartement

Jasa Pindahan Kantor
TRUST MOVERS  adalah sebuah perusahaan milik lokal, yang melakukan usaha jasa pindahan di Jakarta tepatnya di Jl. Bendungan Asahan IV, No 12 E, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat dan berkantor cabang di Pondok Gede, bekasi yang sudah sekian tahun berkecimpung di bisnis ini. Kami adalah perusahan jasa pindahan yang mengkhususkan dalam memberikan layanan jasa packing, pengiriman dan pengangkutan barang-barang rumah baik lokal, antar pulau, nasional, dan internasional. Seiring dengan perkembangan perusahaan kami dapat memberikan pelayanan untuk berbagai jasa pindahan seperti pindahan kantor, pabrik, apartemen dan sebagainya baik sebagian atau keseluruhan.
Perusahaan kami telah berkembang dari awalnya yang sangat sederhana,tumbuh menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan didukung  team work yang handal dan berpengalaman, kami yakin dapat memberikan pelayanan kepada para pelanggan kami sesuai dengan apa yang mereka harapkan.

Dengan koordinasi yang baik dan komitmen yang kuat, kami merasa bahwa perusahaan kami dapat menyediakan layanan yang konsisten dan biaya yang efektif untuk kebutuhan setiap pelanggan. Melalui awal yang sederhana, kita telah belajar, bahwa tidak ada pekerjaan yang terlalu besar atau terlalu kecil bagi perusahaan kami untuk menanganinya. Dengan berjalanannya waktu kami telah belajar untuk menyediakan layanan kami – “24 / 7″. Kami akan membuat komitmen untuk menyediakan layanan kami 24 jam sehari, 7 hari seminggu.
Kesuksesan sebuah pindahan, terlepas dari kapasitas atau ukuran dari barang-barang  yang akan dipindahkan, membutuhkan bahan-bahan atau material  packing yang berkualitas  dan  tenaga kerja atau packers  yang berpengalaman serta  transportasi  dan peratalan yang dapat dihandalkan dan dapat  memberikan kepuasan yang maksimal kepada setiap konsumen yang menjadi klien kami. Kami memiliki tim yang sudah sangat berpengalaman dibidangnya dalam hal memindahkan barang-barang rumah tangga , alat-alat berat, barang-barang seni dan sebagainya yang kami kirim baik wilayah Indonesia maupun international.
Hubungi TRUST MOVERS  di 021 702741 06 / 0812 910 9727 untuk konsultasi dan survey gratis ditempat anda.
Dipublikasi di Berita | Tinggalkan komentar

Jasa pindahan Rumah

trust-movers-logo-300x244Pindahan adalah sebuah proses yang harus dilalui bagi setiap keluarga, perusahaan ataupun institusi lain yang akan menempati rumah, kantor, apartement ataupun pabrik yang baru.

Proses pemindahan sangat menguras tenaga, waktu dan biaya yang tidak sedikit  mulai dari penyortiran, pembongkaran, pengepakan, penamaan atau penomoran, pemuatan, pengiriman (trucking), pengeluaran dari truk, membuka kemasan, memasang dan menyusun atau menata barang sesuai dengan tempat yang kita inginkan
Jasa Pindahan Trust Movers

Untuk dapat melalui proses tersebut bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan, bahkan dapat menimbulkan stress yang cukup tinggi, apalagi memiliki rumah atau kantor yang cukup luas dan tentunya barang yang cukup banyak pula. Terkadang kita bingung untuk memulainya dari mana dan perlengkapan apa saja yang diperlukan.

Oleh karena itu kami hadir sebagai perusahaan profesional yang menawarkan jasa pindahan yang memberikan pelayanan untuk jasa pindahan rumah, jasa pindahan kantor, jasa pindahan pabrik dan lain sebagainya, mulai dari packing sampai dengan set-up di tempat tujuan. Untuk informasi hubungi kami di nomor: 021 702 741 06

Semua proses pindahan kami yang melakukannya, sementara anda hanya mengawasi dan memberikan sedikit petunjuk kepada para packer.
Jasa Pindahan Rumah Profesional

Sebagai perusahaan Jasa Pindahan Rumah yang profesional dengan menggunakan jasa pindahan rumah trust movers, kami jamin anda tidak akan mengalami kesulitan hingga menyebabkan stress yang tinggi dan barang-barang kesayangan anda akan sampai di tempat tujuan dengan kondisi seperti sebelum barang tersebut dipindahkan.

Kami sangat menghargai jika diberi kesempatan untuk melakukan survey barang yang akan di pindahkan di tempat anda tanpa dipungut biaya sama sekali. Hubungi kami segera di  021 702 741 06

Dipublikasi di Berita | Tinggalkan komentar

Daging Sapi Akar Masalah dan Solusi

Sejak lebih dari enam bulan terakhir ini, tepatnya pascalebaran tahun lalu, harga daging sapi merangkak naik dari Rp. 60.000/kg dan puncaknya hingga minggu ini mencapai lebih dari Rp. 90.000/kg yang merupakan harga tertinggi di dunia (rata-rata 38-72 ribu rupiah/kg, Kompas, 4/2/2013). Di Yogyakarta, beberapa waktu yang lalu sempat pula diwarnai adanya mogok jualan daging sapi oleh para penjual daging di pasar karena tingginya harga jual yang menyebabkan kerugian baik bagi penjual daging maupun para jagal sapi. Omzet mereka selama 6 bulan terakhir ini turun sekitar 30%. Para jagal juga sering mengalami kerugian jika mereka tidak akurat dalam memprediksi harga pembelian sapi siap potong. Harga beli sapi lokal juga naik dari Rp.26.000/kg menjadi rata-rata Rp. 35.000/kg bobot hidup. Untuk peternak sapi saat ini diuntungkan oleh kondisi tingginya harga daging, akan tetapi sebenarnya sangat dilematis karena untuk membeli lagi sapi bakalan, harganya tidak terjangkau. Jadi saat ini merupakan kurun waktu yang sulit bagi pelaku bisnis ternak sapi dari hulu ke hilir termasuk para pedagang bakso.

Tingginya harga daging sapi ini juga memberikan dampak pada praktek bisnis kotor yang dilakukan oleh oknum tertentu, yaitu beredarnya daging sapi glonggongan. Praktek bisnis dengan memaksa memberi air minum sapi (dipompa melalui mulut) hingga 100 liter/ekor sampai sapi ‘teler’ gemetar dan pingsan sebelum dipotong, demi mengeruk keuntungan. Dapat dihitung berapa keuntungan yang diperoleh jika air yang terikut dalam daging misalnya separuhnya saja (50 kg) berarti ada potensi keuntungan 3,5 – 4 juta rupiah/ekor. Pasar-pasar tradisional di Yogyakarta tidak menutup kemungkinan beredarnya daging sapi glonggongan yang dijual lebih murah (70-75 ribu/kg) dibanding daging sapi non-glonggongan. Oleh karena praktek kotor bisnis daging sapi yang tidak memperhitungkan peri-kehewanan ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah mengeluarkan fatwa haram mengkonsumsi daging sapi glonggongan. Para pedagang bakso, konsumen mayoritas daging sapi di Indonesia, juga harus ‘berkreasi’ agar dapat bertahan dengan berbagai cara, misalnya substitusi daging sapi dengan daging lain (ayam, jerohan) bahkan ada yang nekat mencampurnya dengan daging babi yang sempat menghebohkan. Jadi dampak negatif tingginya harga daging sapi ini juga sampai pada moral hazard yang sangat merugikan konsumen.

Apa akar masalah dari tingginya harga daging sapi ? Tentu banyak pendekatan dan hasil analisis yang dapat menjelaskan akar masalahnya. Namun, hampir pasti kenyataan bahwa tidak seimbangnya antara suplai dan permintaan daging sapi menjadi menyebab utamanya. Kelangkaan ketersediaan barang akan menyebabkan tingginya harga. Jumlah penduduk Indonesia saat ini kurang lebih 240 juta jiwa. Rata-rata konsumsi daging sapi nasional per tahunnya berkisar 450 ribu ton. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di atas berarti konsumsi masyarakat kita kurang dari 2 kg/kapita/tahun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pasokan daging sapi dipenuhi dari produksi dalam negeri dan dari luar negeri. Diperkirakan 70 % dipenuhi dari dalam negeri dan 30 % dari impor khususnya dari Australia.

Sejak tahun 1990, Indonesia mulai mengimpor sapi hidup dari Australia. Pada tahun 1990, impor sapi  8.061 ekor namun pada tahun-tahun berikutnya tumbuh dan berkembang sangat pesat bahkan secara eksponensial dengan rata-rata 2 kali lipat per tahun dan pada tahun 1997 mencapai 428.077 ekor atau naik 53 kali lipat, dan puncaknya pada tahun 2009 impor sapi hidup dari Australia mencapai 772.868 ekor yang merupakan rekor tertinggi sepanjang 20 tahun sejak 1990 (MLA, 2010). Apabila ditambah dengan nilai impor daging beku dan jerohan yang mencapai 110 ribu ton atau senilai 2,5 triliun (Statistik Peternakan, 2010), maka total nilai impor daging beku dan sapi hidup tahun 2009 mencapai 7,3 triliun rupiah. Akibat impor yang nampaknya sangat berlebihan inilah penyebab anjlok dan terpuruknya peternakan sapi lokal pada tahun 2009. Oleh karena itu dapat dipahami jika pemerintah bertekad untuk mengembangkan sapi agar tercapai swasembada daging sapi pada tahun 2014, salah satunya dengan cara mengendalikan impor daging sapi dan sapi hidup secara bertahap. Diakui atau tidak, kebijakan pemerintah khususnya pengaturan impor akan sangat memengaruhi suplai dan harga daging sapi di dalam negeri. Jika pada tahun 2009 terjadi over supply karena berlebihnya importasi, kondisi saat ini mungkin sebaliknya, yaitu terlalu terbatasnya suplai sehingga harga melambung.

Ketidak seimbangan supply-demand inilah yang menurut saya akar masalah dari melambungnya harga daging sapi. Dalam hal ini dapat dikatakan gagalnya peran pemerintah dalam menjaga dan mengatur keseimbangan supply-demand daging sapi. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Ada beberapa kemungkinan yaitu asumsi yang tidak akurat terhadap prediksi potensi produksi daging sapi dalam negeri sehingga over estimate, atau terlalu rendahnya kuota impor atau kedua asumsi tersebut tidak akurat. Faktanya mencari sapi lokal tidak mudah dan tidak adanya stok yang siap untuk dipotong dan harganyapun juga tinggi. Tidak bermaksud menggugat akurasi data populasi sapi hasil sensus sapi yang menemukan angka populasi sapi mencapai 14,8 juta ekor, yang secara teori cukup memenuhi kebutuhan daging sapi dalam negeri. Namun perlu diperhatikan bahwa keberadaan sapi tersebut tersebar luas di seluruh pelosok Indonesia ini, sehingga mobilisasi ke pusat-pusat permintaan daging sapi menjadi tidak mudah. Disamping itu mayoritas (90%) ternak sapi dipelihara oleh para peternak rakyat dengan modus usaha sambilan, sehingga sapi dijual ketika peternak membutuhkan uang.  Jika mereka tidak membutuhkan uang, sapi tidak akan dijual. Fakta ini dapat dilihat di pasar-pasar hewan yang relatif sepi pada musim tertentu (awal musim tanam) dan melimpah pada kurun waktu tertentu seperti tahun ajaran baru saat anak masuk sekolah. Inilah ‘simalakama’ dan dilema per-sapi-an di Indonesia.

Satu-satunya solusi mengatasi ‘simalakama’ daging sapi ini adalah pemerintah harus menemukan titik keseimbangan ideal antara supply dan demand daging sapi. Langkah yang sebaiknya dilakukan adalah :

  1. Dalam jangka pendek ini, duduk bersama para stakeholders terkait perdagingan sapi (pengusaha, pedagang, peneliti-akademisi, peternak) untuk merumuskan dan menentukan kembali titik keseimbangan supply dan demand daging sapi di dalam negeri dengan dilandasi semangat kejujuran dan keterbukaan.
  2. Mengevaluasi dan menetapkan angka kuota impor sapi dan daging sapi setiap triwulan pada tahun berjalan dengan melibatkan para pihak terkait.
  3. Bersungguh-sungguh (berjihad) dalam mengembangkan industri peternakan sapi di Indonesia melalui berbagai instrumen kebijakan yang memihak kepentingan nasional, mencapai program swasembada daging sapi tahun 2030 (bukan 2014).
Dipublikasi di Berita | Tinggalkan komentar